bismillah~
Dunia mungkin tertawa bahagia- layaknya anak kecil yang mendapati begitu banyak permen dalam ransel nya-ketika menyadari begitu banyak dan beragam budaya yang ada dalam dirinya. Tuhan menciptakan dunia, lalu menciptakan manusia, setelah itu manusia menciptakan budaya. Lalu bagaimana mungkin bisa tercipta ke-aneka ragam-an budaya dari satu wujud manusia yang sama? Jawabannya ada di mata kuliah “seni kehidupan”, buat yang belum program, programlah mata kuliah ini secepatnya. (skifo!saya belum lulus di mata kuliah ini :p)
Bagian terindah dari dunia adalah mengenal dunia itu sendiri dan mengenal manusia. Karena, sesuatu yang kita kenali akan mudah kita hadapi. Tapi, antara dunia dan manusia, saya lebih senang untuk bersahabat dengan dunia, karena bergaul dengan makhluk hidup terkadang menyebalkan. (kalimat terakhir yang menyebabkan saya tidak lulus di mata kuliah “seni kehidupan”).
Cross culture understanding(baca:sisiyu) adalah mata kuliah yang akhir-akhir ini sangat sering saya rindukan. Saya merindukannya bak hujan yang dengan setia nya akan membasahi bumi setelah petir menyambar #dongdong!#. cross culture understanding adalah melintasi budaya pemahaman #dongdongdong!# intine, belajar tentang budaya di LUAR dari budaya ENDONESAH. Karena saya adalah tipe manusia yang cara belajarnya menggunakan cara belajar tipe audio, makanya saya seneng ngedengerin orang cuap-cuap membahas sesuatu yang baru dan menarik, dan yang pastinya mudah nyangkut di otak! Dibandingkan kalau saya harus membaca yang…(hoammhh).
*suku tolaki dan jepang*
Kapan pertama kali kalian mengenal negara jepang(yang memiliki beberapa suku)? Kalau saya nih, sepertinya waktu jaman SD. Mungkin, setelah nonton episod keseribu sekian-sekiannya doraemon. Kan, akhirnya baru tau kalau doraemon itu pilem kartun dari jepang. Tapi, saya nggak yakin sih. Lagian mah waktu itu peduli amat ya? Yang penting nonton pilem kartun sampe pingsan. Nah, kalau suku tolaki? Ada yang baru dengar suku ini? Errgghh, saya lagi-lagi tidak tau pasti kapan pertama kali saya mengenal suku ini. Mungkin, pada saat saya sadar bahwa saya berada di tengah-tengah orang tolaki, dan itu tidak penting kapan. Karena, selamanya saya akan menjadi orang yang memiliki darah tolaki dan berharap memiliki darah jepang walau secuil (kan sapatau bisa “pantas” membintangi iklan pokariswit. Nyehehe).
*beberapa kesamaan antara suku tolaki dan jepang*
Salah satu bukti pengikisan budaya adalah ketika seseorang berbicara memakai bahasa daerah(yang daerahnya sama dengan kamu) lalu kamu membalasnya dengan menggunakan bahasa indonesia(tidak menggunakan bahasa daerah). Karena, kamu hanya mengetahui artinya namun tidak tau atau tidak mau untuk membalasnya dengan menggunakan bahasa daerah yang sama. (contoh dari segi bahasa). Seperti itulah saya, hehe. Penyebab utamanya karena saya lahir di kota makassar, yang bersuku asli makassar dan bugis. Suku tolaki tuh marginal di makassar, jadi kalau bisa “nemu” itu sesuatu banget. Saya menemukan beberapa kesamaan antara suku tolaki dan mungkin suku asli yang ada di jepang, pokoknya orang jepang deh!
#1. Dari segi penampakan nih, karena keduanya sama dari benua asia, ya pasti nggak jauh-jauh lah dari kesan pendek dan imut. Yang menurut saya sama persis tuh dari warna kulit(kuning langsat-mendekati putih tua #halah!), bentuk mata(yang rada-rada cipit gimanaa gicuu), dan yang terakhir tuh lincah(yang kesannya suka kayak buru-buru banget).
#2. Dari segi bahasanya, kita kan uda sering banget ngedengerin orang jepang ngomong atau mungkin nyanyi(yang kayak jingle di iklan pokariswit, tuh..! walopun mereka bukan orang jepun asli). Ciri khas bahasa mereka kebanyakan huruf vokalnya. Misal: watashiwa fai desu(nama saya fai), ohayo(met pagi), wakarimasen(saya tidak mengerti) atau arigato(timakaci). Keliatan kan, di dominasi huruf vokal. Coba kita bandingkan dengan bahasa tolaki. Inai tamomu?(nama kamu capa?), okikutorike(nggak tau), ari akuto mongga(saya sudah makan). Hmmm, rada-rada mirip kan? #maksa-haha
#3. Yang terakhir adalah saya suka bahkan jatuh cinta pada kedua suku ini, suku tolaki dan suku-suku yang ada di jepang. Hingga membuat saya memiliki mimpi sederhana, suatu saat nanti saya dan keluarga saya akan stay di jepang. Lucu kali ya, kalau orang jepang ngomong pakai bahasanya terus di tangkis pakai bahasa tolaki. Geheheii
saya nggak tertarik ngebahas perbedaannya, karena pasti banyak banget lah. tapi kalau misalnya saya harus milih nih, saya rela transfer suku (dari tolaki ke jepang). haha #penghianat suku#
| yang jilbaban cepupu saya tuh. imut kan? xixi |